Sejarah Kota Batu

Hasil gambar untuk kota batu

Di wilayah timur sekitar 8 KM dari pusat Kota Batu, Malang, Jawa Timur. ada pohon besar yang akarnya mencuat ke permukaan tanah, nampak tumpukan batu andesit yang sudah tidak terbentuk lagi.

Dan sejarah peresmian Kota Batu sebagai Tanah Sima dimulai di sini. Suatu ketika di bawah pohon tanjung dekat aliran Bhangawan Brantas, berdiri dengan bangga sebuah Kuil, bernama Candi Kajang bersama dengan Prasasti bernama Pengangguran, tanggal 14 Suklapaksa Srawana di 850 Saka atau 2 Agustus 928 Masehi.

Prasasti Pengangguran diterbitkan oleh Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa.

Candi dan prasasti itu ditemukan tepatnya di wilayah Desa Ngandat, Mojorejo, Kota Batu Jawa Timur.

Sekarang lokasi bangunan Kuil Kajang dan tempat awal di mana Prasasti Pengangguran berada disebut Punden Mojorejo atau Punden Mbah Joyo slamet.

Sangat disayangkan, reruntuhan bangunan Kuil Kajang, yang bisa kita lihat sekarang hanya memisahkan kaki candi.

Penemuan awal Kuil Kajang dan Prasasti Pengangguran didasarkan pada laporan Jenderal Colin Mackenzie pada tahun 1813, kepada Thomas Stamford Raffles.

Itu menemukan prasasti dan candi di pedalaman Jawa. Berdasarkan laporan salah seorang jenderalnya, Thomas Raffles yang saat itu menjabat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Inggris di Hindia Belanda (1811-1815) melakukan perjalanan ke daerah kota batu.

untuk menindaklanjuti laporan Jenderal Colin Mackenzie. Catatan untuk laporan ini berlanjut dengan penguatan sebuah laporan oleh Kolonel Belanda Adam pada tahun 1913, yang melaporkan menemukan reruntuhan candi di daerah Ngadat, Mojorejo, Kota Batu.

Kemudian laporan tersebut direkam oleh Jan Laurens Andries Brandes dalam buku Oud Javaansche Oorkonden (OJO).

Menurut sebuah wawancara dengan para tetua desa Ngadat Mojorejo. Berdasarkan sejarah kisah kakek buyutnya.

Prasasti yang menganggur sebelum dipindahkan ke Inggris mengalami beberapa kali pemindahan. Sebelum dibawa oleh Thomas Raffles, Prasasti Pengangguran pertama-tama pundenkan oleh warga lanjut usia warga Desa Ngadat, tepatnya di tengah sawah dan ditempatkan di belik (sumber air), belik itu disebut Belik Tengah .

Ketika prasasti ini sudah pundenkan ada 2 arca di sebelah kiri dan kanan, arca-arca ini sekarang hilang entah kemana.

Karena prasasti itu keramat sehingga warga Ngadat sangat jarang, apalagi mengunjungi bagian tengah belik.

Karena keunikan Prasasti Pengangguran, Thomas Stamford Raffles memindahkan prasasti ini ke Surabaya, yang kemudian ditingkatkan menjadi kapal bernama Matilda pada 23 Juli 1813.

Setelah prasasti ini berhasil dibawa ke Inggris. Prasasti itu ditempatkan di rumah salah satu kolega dan atasan Thomas Raffles, bernama Lord Minto. Jadi prasasti ini juga disebut Batu Minto, lokasi tempat tinggal Lord Minto berada di dekat perbatasan Negara Skotlandia dan Inggris.

Lokasi di mana Prasasti Pengangguran dibentuk, disebut belik tengah, sekarang menjadi Kuil Dhammadipa.

Beralamat di Jalan Raya Ir. Soekarno No.311 Mojorejo, Kec. Junrejo, Kota Batu. Bekas punden, lokasinya tepat di Patung Bodhisattva Avalokitesvara atau yang disebut Dewi Kwam Im, yang berada di dalam kompleks Kuil Dhammadipa.

Sebelum meresmikan Tanah Sima atau tanah perdikan (tanah bebas pajak) di Desa Pengangguran S, Dyah Wawa memiliki rencana untuk menguduskan Kerajaan Medang dengan merebut Raja Dyah Tulodong dan MPU Ketuwijaya.

Dengan bantuan MPU Sindok, wali Dyah Wawa, MPU Sindok menyiapkan sebuah desa untuk pandai besi, yang terbiasa membuat senjata, untuk memperlancar rencana kudeta untuk merebut Singgasana Kerajaan Medang.

Kemudian Mpu Sindok dipilih menjadi Desa Pengangguran untuk menjadi tempat berlindung bagi Kajurugusalyan atau menempa logam, untuk membuat senjata perang.

Setelah berhasil menggulingkan Raja Dyah Tulodong dan menduduki takhta kerajaan Medang, Dyah Wawa menepati janjinya, dan mendirikan dan melantik Tanah Sima di Desa S pengangguran.

Dengan membangun kuil dan prasasti di Desa Pengangguran S, daerah itu sekarang disebut Daerah Ngadat, Mojorejo. Kata Ngadat berasal dari “Pengangguran” yang berasal dari kata Wine = Ngadhat, “Ngadhat” dalam bahasa Jawa berarti “Mandhek” dalam bahasa Indonesia berarti “Stop”. Yang bisa diartikan sebagai tempat menghentikan kajurugusalyan (pemimpin bengkel logam) membuat desa.

Prasasti pengangguran diukir pada balok batu besar (stela) berukuran tinggi 1,6 meter dengan lebar 1,22 meter tebal 32,50 cm² dengan berat 3,5 ton.

Prasasti ini diukir menggunakan aksara Jawa Kuno dan beberapa bagian pembuka dalam bahasa Sansekerta (manggala).

Sisi depan (recto) memiliki 38 garis, sisi belakang (verso) memiliki 45 garis dan margin memiliki 15 garis (Djafar, 2010: 224).

Bagian tulisan ini di bagian bawah adalah dalam bentuk lotus yang dihiasi dengan lotus (padmasana).

Situasi prasasti ini sekarang sangat buruk dan tidak terawat serta ditinggalkan di lokasi pekarangan bangsawan bangsawan Inggris Lord Minto.

Pemilik prasasti ini sekarang bernama Viscount Timothy Melgund, putra tertua Earl of Minto VI dan tinggal di Skotlandia.

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>